Friday, December 19, 2014

Contoh Cerpen SMA - code 005


BENGAL
Ardi, seorang anak Bengal yg kerjaannya hanya bermain saja setiap hari. Sangat pemalas, malas membantu orang tua, juga malas bersekolah. Ia berumur sebelas tahun, dan ia sudah duduk dibangku kelas 5 SD. Ia sebenarnya adalah anak yg pintar, namun ia malas belajar. Prestasinya disekolahpun tidak mengecewakan. Selalu mendapat ranking  2 dikelasnya. Ia adalah seorang anak yg ganteng. Sehingga walaupun umurnya masih sebelas tahun, sudah banyak yg naksir kepadanya.
Karena kebandelannya ia sering sekali dimarah oleh orang tuanya dirumah maupun guru-gurunya disekolah. Namun tetap saja ia tidak berubah.
Sebenarnya ia adalah anak yg baik, namun karena umurnya yg masih begitu muda, ia belum bisa menentukan mana yg baik dan mana yg buruk.
Suatu hari, ia sedang bermain dengan teman-temannya. Nopa, Tengtong dan Udik. Mereka semua tengah bermain sepeda dijalan dekat rumah Ardi. Karena pada waktu itu siang hari dan cuacanya sangat panas, Ardi mempunyai ide. Dan memberitahu kepada teman-temannya. “wooy panas sekali, mandi disungai yuuk” kata Ardi. “ayooo” celetuk Veri menandakan ia setuju. “tapi kamu kan gak dikasi sama bapakmu mandi disungai Di” kata Nopa memberitahu. “hallaah gak kenapa itu pa, gak diliat juga” Ardi beralasan. “nah, trus kalo sampai ditau bapakmu gimana? Kan bisa aja dia datang ke sungai nyariin kamu” imbuh Udik. “mmmh kalo masalah itu, kita kan bisa liat-liat kejalan siapa tau ada bapaku. Nanti kalo bapakku datang, kita kan bisa langsung kabur pake sepeda” Ardi meyakinkan. “siiip kalo gitu” kata Udik sambil kegirangan. “ayoo berangkat”  Tengtong mengajak.
Mereka pun berangkat menuju sungai yg akan dipakai untuk tempat mandi.
Sampai disana, mereka langsung menanggalkan pakaiannya masing-masing dan langsung melompat kegirangan ke sungai.
30 menit telah berlalu. Karena terlalu keasikan berenang, merekapun lupa akan rencana mereka mengawasi bapak Ardi yg siapa tahu tiba-tiba datang mencari Ardi.
Benar saja, bapak Ardi tiba-tiba saja datang tanpa diketahui oleh Ardi dan teman-temannya,dan bapak Ardi langsung berteriak “MEMET!!” teriak bapak Ardi. (Memet adalah nama panggilan Ardi yg sampai saat ini tidak ditau siapa yg panggil nama itu pertama kali) Ardi dan teman-temannya sangat kaget dan ketakutan. Dan akhirnya merah muda telinga Ardi karena dijewer oleh bapaknya.
Bahkan peristiwa itupun tidak membuat Ardi menjadi kapok. Ia selalu membuat masalah.
Kerjaannya hanya bermain dan meminta uang kepada orang tua. Sehingga membuat orang tuanya stress.
Sampai pada suatu kejadian yg membuat hidup Ardi benar-benar berubah.
Pada saat itu sore hari, Ardi sedang bermain bola dilapangan SD tempat ia bersekolah. Bersama teman-temannya ia menendang bola kesana kemari dan berlari-lari kegirangan.
Satu jam telah berlalu, dan Ardi mulai kehausan. Iapun beristirahat dibawah pohon mangga yg ada disekolahnya. “kenapa udahan mainnya?” Tanya tengtong yg pada saat itu ikut bermain bola. “capek tong, panas sekali” Ardi memberi penjelasan. Udik pun juga ikut mengeluh “iya saaah panas sekali, pengen yg seger-seger”. “gimana kalo kita cari jambu aja? Lumayan kan bisa bikin seger. Mumpung jambu yg disebelah pagar sekolah itu lagi berbuah”. Usul Nopa, karena memang jambu yg terdapat disebelah pagar SD tempat mereka sekolah sedang lebat-lebatnya berbuah. “ayolah, tapi kamu yg naik pa” perintah Ardi sambil cengar cengir.
“masa cuma saya sih? Gak adil kan, kita manjat sama-sama aja” kata nopa mengajak.       “iya-iya deh kalo gitu, ayo berangkat” ajak Ardi. Mereka ber-empat pun berangkat menuju pohon jambu tersebut. Mereka ber-empat memang selalu bermain bersama-sama, karena rumah mereka yg letaknya tidak terlalu berjauhan. Bahkan disekolahpun mereka duduk berdekatan.
Sesampainya dipohon jambu tersebut mereka bergegas untuk memanjat. Tapi ada sesuatu yg dilihat nopa dipohon jambu tersebut. “ooy tunggu dulu, itu apa yaa? Kok kaya sarang lebah?” nopa bertanya kepada teman-temannya. “itu Cuma sarang semut pa, gak usah jadi penakut gitu deh, saya udah kehausan banget nih” ungkap Ardi kesal. “iya mungkin Cuma sarang semut” kata nopa berharap-harap kalo sesuatu yg dilihatnya itu memang hanya sarang semut.
Dan merekapun akhirnya naik kepohon jambu tersebut. Karena masih ragu-ragu nopa masih belum memanjat pohon jambu tersebut. Ardi melihat nopa masih dibawah dan ia kesal “pa cepat ih naik, nanti kalo kamu kehausan jangan salahkan saya yaa!”. “iya-iya saya naik” nopa pun memberanikan diri untuk memanjat pohon jambu tersebut, karena ia memang sangat kehausan setelah bermain bola tadi.
Setelah sampai diatas pohon jambu, mereka ber-empat langsung memetik jambu dan memakannya dengan sangat lahap.
Ardi yg sangat banyak memakan jambu, namun ia yg naik paling rendah memanjat. Karena tidak terlalu bisa memanjat. Udik yg menguasai pucuk pohon jambu karena ia yg paling tinggi memanjat.
Ardi yg sedang asik memakan jambu, memperhatikan sarang aneh yg dikatakan nopa tadi. Dalam hati ia berkata “oh ini sarang sialan tadi yg bikin masalah”. “temen-temen, saya injak aja ini sarang yaa?” teriak Ardi kepada teman-temannya. “JANGAN!!” secara bersamaan teman-teman Ardi berteriak. Namun tidak dihiriaukan oleh Ardi. Dan ia langsung menginjak sarang tersebut sampai terjatuh sarangnya. Tidak lama kemudian, banyak lebah berterbangan.
“ihh ko banyak lebah yaah” kata Ardi ketakutan. “itu sarang lebah goblok!!!” kata Udik, nopa dan tengtong bersamaan. Merekapun langsung melompat dari pohon dan berlari tanpa menghiraukan apa-apa lagi, terlambat sudah. Karena lebah-lebah sangat marah. Akhirnya badan mereka bintul-bintul disengat lebah. “Aduh-aduh sakitnya” Ardi mengeluh. “Kamu sih! Udah dibilang jangan masih aja gak dengarkan” nova berkata dengan kesalnya.
Mereka membuka baju sambil melihat-lihat bagian mana saja yg disengat lebah. ‘Dik kamu banyak gak disengat?” Tanya Ardi kepada udik. Karena tidak ada jawaban Ardi melihat-lihat Udik. “lho Udik mana?” Ardi keheranan. “Pa, Tong. Udik mana?” Tanya Ardi. “gak tau” jawab mereka bersamaan. “aduh, kemana lagi itu anak. Bisa-bisa dimarah Gejer ini saya” dalam hati Ardi menggerutu.
Sementara mereka kebingungan mencari Udik. Nopa menceletuk “by the way, sandal kita mana?” “waduuh gawat! Pasti masih ketinggalan dibawah pohon jambu tuuh” tengtong cemas. “oia yaah, ayo ambil” ajak Ardi. “gila lu Di, mau antar nyawa kesana?” nova melarang. Lalu Ardi berkata “tapi gimana dong? Kalo kita pulang tanpa sendal, pasti merah lagi ini telinga dijewer”. “iyaa pa gimana dong ini” kata tengtong sambil matanya berkaca-kaca. Mereka bertiga sangat ketakutan, takut untuk kembali mengambil sendal yg ketinggalan, juga takut untuk pulang karena tidak membawa sendal.                           ‘Woooy!!!” bak seorang superman yg tiba-tiba datang untuk menyelamatkan Udik berteriak sambil membawa 3 pasang sendal milik Ardi, nopa dan tengtong.
“nah itu Udik datang bawa sendal” kata tengtong dengan sangat gembira. “Abis dari mana aja lu?” Tanya Ardi penasaran. “gak usah banyak Tanya deh, yg penting gue datang sambil bawa sendal loe-loe semua” Udik memberi penjelasan. “makasih Dik” nopa berterimakasih.

“ayo kalo gitu kita pulang” kata Ardi mengajak.                                                                            Merekapun akhirnya pulang kerumah masing-masing. Sampai dirumah mereka semua mendapat jeweran Karena pulang dengan keadaan bintul-bintul.
Sejak saat itu Ardi sedikit demi sedikit mulai sadar akan tingkahnya tersebut. Dan ia sudah mulai berubah. Kini, ia telah beranjak dewasa, telah duduk dibangku SMA.                                 Ia menjadi sosok yg sangat mandiri, tegas dan bertanggungjawab.                                            Ia juga sangat tampan, sehingga banyak cewe-cewe yg  seumuran dengannya menyukai Ardi. Dan ia telah memilih salah satu diantaranya. Namun tidak akan diceritakan dalam cerita ini, karena suatu alasan tertentu. Demikian sedikit perjalan hidup seorang anak Bengal yg biasa dipanggil Memet.

 Intinya kenakalan remaja itu sangat wajar, karena mereka belum tau pasti apa yg mereka lakukan. Seiring berjalannya waktu mereka akan sadar bagaimana harus menjalani hidup. 

No comments:

Post a Comment